Kali ini pakde datang lagi! Aseeeek.
“Pak Menkopul, saya ikut Juminten malam ini ya” begitu bunyi pesan singkat dari Pakde Mbilung.
Saya langsung pamer ke Zam soal kedatangan Pakde, jawabnya singkat ” Pakde saya utus ke Jogja untuk memperbaiki akhlak kalian yang menjahati Sultannya dengan SMS iming-iming“.
Akhirnya pakde pun datang, kami sambut dengan sukaria. Oh, siapa tak suka Ria?
Memang sangat disayangkan bahwa ini adalah Juminten perdana tanpa Zamroni di Jogja. Dia (Zam-red) sedang menikmati suasana hingar-bingar di klub malam Jakarta bersama para eksekutif-eksekutif muda lainnya. Dan kamipun, para jelata mendengarkan dongeng dari Pakde Mbilung dan bergojek sampe kere!

Pulang juminten? Makan bandeng sama mas ganteng.
Sebenarnya saya dan kami tak senang dengan kata “terakhir“. Semua yang ada kata “terakhir“, pasti akan menyesakkan. Sedih atau apapun itu.
Kepergian Sultan ke Barat, tentu membuat kami cukup alasan untuk bersedih. Sebodoh apapun ekspresi Sultan saat berpose, tak mengurangi keinginan kami untuk terus berlama-lama dengannya. Sifat akomodatifnya memang tak tergantikan, dan kami memang tak ingin ada ganti.
Sultan yang hendak melanglangbuanadara ke Jancukarta itu menginginkan semua bala tentara CA datang berkumpul Jumat esok. Bukan melepas kepergiannya, tapi cuma bercanda untuk terakhir (setidaknya bulan April ini), karena ini memang jumat terakhir di bulan April.
Saya tahu, dan kami tahu, Sultan pasti rindu Kawasan Nol Kilometer ini. Meski dia berada di jarak ratusan kilometer di barat sana, hatinya tetap di sini. Lagu Serenade tetap akan kami kumandangkan untuk mengingat jasa-jasamu.
Dan ingatlah, jika longgar waktumu di barat sana, luangkan waktu sejenak untuk mengendurkan urat syaraf di sini.
Eh, Siapa yang mau datang besok Juminten? 25 April 2008! Ayo tunjuk hidung!!
Buat fara bayudh yang fenasaran dengan makhluk buatan furwokerto ini, bisa merapat di Juminten minggu ini. Siapa lagi kalau bukan Hoek Soegirang! Hohohohoho!
Siafkan ferut lafar, siapa tau beliau membawa gethuk goreng atau cewek-cewek Unsoed yang jadi pelanggan warnet Hoek!
Akan tetafi, pada fergelaran istimewa ini sefertinya Sri Sultan masih menghitung uang gaji 7,5 juta perminggunya di Jancukarta. Dan Menkoful terfaksa tidak bisa ikut merafat karena ada tugas buruh ke fulau dewata.
Semoga Hoek fuas dijamu para jelata yang kebanyakan adalah fara bayudh!
Aku ingin nyanyikan lagu
Buat orang orang yang tertindas
Hidup di alam bebas
Dengan jiwa yang terpapas
Serenade adalah sebuah lagu yang sering menjadi request para jelata saat pergelaran Juminten. Dinyanyikan oeh pengamen jalanan Malioboro. Peralatannya pun lengkap, mulai dari gitar akustik, kendang, sampai bass betot.
![]()
Adalah Iwan fals yang pertama mempopulerkan lagu ini. Saat itu Bang Iwan masih tergabung di KPJ (kelompok pengamen jalanan). Kemudian sempat di-remake oleh Steven & Coconut Treez si pelantun “Welcome to My Paradise” dengan aroma reggae.
Penampilan bersahabat, serta ucapan khas “permintaan untuk pengakuan dosa” saat dia memutarkan topi mengambil sedikit uang dari para jelata sebagai timbal balik atas hiburan menarik ini.
Kenapa harus takut pada matahari ?
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya
Kenapa harus takut pada malam hari ?
Nyalakan api dalam hati usir segala kelamnya
Semoga lagu ini bukan cuma barisan lirik saja, semoga ada kedalaman pesan yang ditangkap oleh manusia-manusia ini bahwa di luar sana kaum tertindas masih menjadi bagian dari keseharian kita.
Kenapa Cenil dan Klepon? Menu setengah wajib dalam pagelaran Juminten. Bisa dibeli di depan pasar Beringharjo dengan harga sangat merakyat, cukup dengan 100 untuk cenil dan 200 untuk klepon. Biasanya pukul delapan masih cukup banyak stok dagangannya. Di situ juga tersedia beberapa jajanan pasar lainnya. Dipadu dengan fanta merah bawaan Pepeng pastinya menu ini makin istimewa digemari para jelata.

Sumber : http://www.flickr.com/photos/sexychef/2270755860/

Sumber : http://www.flickr.com/photos/balitraveller/1017810113/
Penampakannya bisa dinikmati via gambar tersebut.
Pengen merasakan juga? tak ada salahnya berkunjung ke Juminten minggu ini.
Percayalah, ini bukan topik serius. Tapi ini topik penting, darurat dan urgent. Keseimbangan lingkungan yang sering diabaikan oleh para manusia-manusia modern rupanya membuat Pakde itu khawatir. Agar para keponakan tercinta bisa berlaku bijak dalam bertatalaku hidup di bumi ini, maka diadakanlah acara diskusi bebas menyoal isu-isu lingkungan.
Sebagaimana nama pembicara, Pakde Mbilung, maka acarapun bernama Mbilung. Mbahas Isu Lingkungan. jarang-jarang toh, nama acara kok sama dengan nama pembicara. Cuma di CahAndong yang ada beginian inih. Hwakakakak.

Mau bergabung? gojek kere yang sedikit serius? datang ke Nol Kilometer Jogja, Jumat Malam. Tanggal 28 Maret 2008, muali pukul 19.30. Ada kacang rebus (beli sendiri), ada fanta merah (nunggu sedekahnya pepeng) dan tomat segar (nunggu janjinya gage).
Khawatir acara akan berjalan serius dan tegang? Percayalah kisanak! Tidak akan itu terjadi! pasti acaranya bakal amburadul dan acak-acakan. Hawahahahhahaaha. *dibakar pakde mbilung*
Mari berdoa bersama agar pembicaraan terbebas dari unsur saru dan jorok.
Demikian sekilat pemberitahuan, semoga bisa membantu sampeyan menjadwalkan agenda jumat mendatang.

Tanggal 21 Maret 2008, giliran Mas Pitra, orang hebat yang datang ke pestanya para jelata. Pengelola Media Ide Bajing Loncat yang terkenal kreatif itu, pernah pula memawancarai pemilik situs esek-esek paling ngetop (17tahun2.com) kegemaran Funkshit itu. Makasih ngobrol-ngobrolnya mas. Semoga betah, dan nanti bakal sering mampir ke juminten. Sukses terus untuk karirnya.
Selain Mas Pitra, ada pak Yahya Kurniawan. Si tukang insinyur yang penah menulis buku ini akhirnya menampakkan diri. Sebagaimana pembawaan di milis, pak Yahya ini juga asik diajak bercandaan. Kurang tau sih, kalau diajak berantem, langsung nyambung apa tidak ![]()
Beliau langsung nyambung klop sama gaya kere para jelata. Jumat depan, ditunggu lagi ya pak! jangan lupa bawa sisa kuepengajiannya.
Teknologi memang sudah kebangetan meracuni hidup manusia. pengaruhnya bisa kita rasakan setiap hari.
Pengamen jalanan di acara Juminten pun tak mau diam saja. Bergerak! atau mati tergilas! begitu mungkin semoboyan mereka dalam mengamen. Tak hanya menjual suara cempreng, tapi juga pidato ngibul. Bagaimana tidak? pasca mereka pidato panjang kali lebar, mereka pun mempersembahkan lagu : “Bang, SMS Bang!”
[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=XoqI9P7c324&hl=en]
Hare gene nongkrong doank? kemana aja lu mon!
Selain nongkrong doang, kami pun gojek kere. Eh piye sih? maksudnya kamipun berdiskusi yang bermanfaat, gitu.
Ada pak Nukman Luthfi yang mengasuh virtual.co.id itu loh! Kamipun diracuni dengan konsep baru internet marketing dan entrepreneur. Pas diceramahin sih ngangguk-ngangguk semua. Nggak tau abis acara, mungkin semangat ikut kabur bersama angin malam.
Liputan lengkap ada di blog pak Sultan ndoyok.
Perhelatan akbar jelata nDoyokarta yang akan dijadikan agenda rutin ini dilaksanakan pertama kali pada tanggal 29 Februari 2008. Jadinya, ulang tahun Juminten pun harus diperingati empat tahun sekali. Asyik, ngirit ongkos!
Di malam jahanam penuh dusta itu, para jelata berkumpul seperti biasa. Hanya lokasi saja yang berpindah, semula di kafe Djambur, atau di Angkringan tugu. Pesertanya pun (hampir) itu-itu saja. Tidak ada yang salah sih, wong namanya juga kongkow-kongkow, siapa suka - siapa mau, boleh turut serta.
Isi utama Juminten perdana ini adalah membahas peristiwa bersejarah dalam salah satu Babad Serat Cah Andong, yaitu perihal gagalnya pertemuan Antobilang dengan adinda pujaan hatinya. *ngarepDOTcom* Tlisiban dimeriahkan dengan acara meloncat dari puncak gedung kantor pos besar dan aksi akrobatik menabrakkan diri diantara ramainya jalanan malioboro. Plus menghujani komentar di blog mas iman yang memuat berita buruk Tlisiban itu.
Juminten

JUmat MIdNite TENguk-tenguk
kumpul tiap JUMAT MALAM jam 21.00 till drop
di Seputaran Titik Nol Kilometer Jogja
Pasar Klithikan