1 Maret 1949 pukul 6 pagi. Sirene meraung-raung dari 3 penjuru kota, dari Kedaung Table Top, Pasar Beringharjo, dan Plengkung Gading, menandakan berakhirnya jam malam yang diterapkan Belanda.
Para pemuda berikat kepala janur kuning pun dengan gagah berani segera mengokang senjata. Di bawah pimpinan Letkol Soeharto, Jogja selama 6 jam menjadi neraka bagi Belanda.
Di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 inilah kami, para pemuda nggaya, dangkal, ngeselin, dan sok tau ini semalaman berkumpul.


Maksudnya sih hendak mengenang kembali dan meneladani semangat kepahlawanan para pemuda Jogja berjanur kuning itu, apa daya malah menjadi ajang bergojek kere, guyon goblok, dan nggedebus nggambus
Juminten
Pasar Klithikan